Tanpa Judul…….

Kuambil gitar dan mulai memainkan lagu lama yang biasa kita nyanyikan dan tidak sepatah kata yg bisa terucap hanya ingatan yang ada di kepala…….di malam yang dingin dan gelap sepi benakku melayang pada kisah kita,,,,,,,,,,

Hheeehh…..memandang langit bertaburan bintang yang gemerlap ketika bulan mati dan deru ombak yang berkejaran silih berganti seakan  menyapaku yang sedang sendiri menikmati alunan lagu yang sedang dinyanyikan oleh sekumpulan anak anak remaja. Malam ini aku sendiri tanpa dirimu, tanpa candamu dan tanpa senyummu. Angin yang berhembus pelan membuat udara dingin sedingin hatiku yang telah melepas kepergianmu.

Teringatku saat itu, “Plak”, aku menamparmu menampar orang yang aku cintai dan aku benci saat itu. “Aku benci kamu, Ja”, kataku. Aku gak pernah menyangka kamu tega melakukan semua itu mengkhianati hubungan yang telah kita bina selama 5 tahun hanya karena kebodohanmu menghamili seorang wanita. “Aku terjebak Wid, percayalah padaku.” Bagiku itu hanyalah kalimat bodoh yang selalu kau ulang ulangi saat itu. Aku berusaha meyakinkan orang tuaku tentang kamu tentang adat yang berbeda diantara kita namun kamu malah menghancurkan semuanya. Bibirku terkatup rapat dan tak mampu lagi tuk berkata apa selain mengusir dirimu dari hadapanku. 

Kecelakaan itu tidak hanya menghabiskan apa yang telah kumiliki namun hampir merenggut nyawaku, kepergianmu membuat diriku rapuh hidupku begitu kacau kebiasaan ngumpul di bar hingga larut malam dan pulang dengan keadaan mabuk selalu kulakukan setiap hari semangat kerjaku juga berkurang bahkan selalu mendapat teguran dari atasan karena keterlambatan dalam menyelesaikan laporan. Untunglah abangku sangat baik padaku, mendengar kabar tentang diriku dari teman satu kerjaanku membuatnya segera mengunjungiku dan memberi semangat hidup. Tawaran yang diberikannya padaku untuk bekerja di sebuah tempat industri yang terpencil langsung saja kuterima. Aku harus bangkit dari keterpurukanku, jalanku masih panjang dan aku harus membantu orang tuaku yang juga tertipu bisnis dengan orang yang selama ini telah kami anggap saudara. Tuhan……tidak cukupkah bagiMu dengan menghukumku sehingga Engkau juga harus menghukum orang tuaku? Dengan gaji yang hanya cukup buat makan dan dengan usaha sampingan yang aku tekuni telah membuat hari hariku berlalu begitu saja hingga suatu ketika saat mataku lelah dan seluruh tubuhku mengajakku untuk segera melabuhkan diri ini di tempat tidur tiba tiba suara Anggun yang berasal dari Hp ku berbunyi, dengan enggan sambil mata tertutup aku menjawab telepon masuk yang tidak kukenal nomornya, “Hallo”, kataku.”Rahajeng Wengi, Punapi gatrane Wid?”. Degg…aku terhentak kaget jantungku berdetak kencang, suara itu……suara yang telah terlupakan selama keberadaanku di kota kecil ini. Dengan sedikit gugup aku menjawab pertanyaanmu, :Tyang becik becik manten, Ragane?”. “Baik juga,” jawabmu saat itu. “Ada apa sehingga menelpon diriku, gak takut ada yang cemburu di sampingmu?”. Kamu hanya tertawa menjawab pertanyaanku. Sejak saat itu kamu hampir selalu menghubungiku kamu tidak pernah mau memberitau padaku darimana kamu mendapatkan nomor hp ku, dan hubungan kita semakin berlanjut tidak hanya melalui telepon tapi juga melalui imel bahkan chating. Setiap hari kita selalu bersama jarak dua kota yang jauh dengan perbedaan waktu 1 jam lebih cepat di tempatmu tidak membuat kita jauh namun semakin dekat dan dekat. Kunikmati semua waktu yang ada walau hanya dalam dunia maya kita bersua walau hanya dalam nada mendengar suara dan terbersit dalam nuraniku menyimpan harap jadi nyata padamu yang pernah singgah dalam hatiku. “Wahai jiwa yang berada dalam rasa yang sepi apakah aku pantas memilikinya kembali  memiliki dia yang tidak bahagia dengan pernikahannya?”

Dua tahun sudah aku meninggalkan kotamu dan berpisah darimu ingin rasanya aku kembali dan melepas segala kerinduan yang selalu hadir dalam hati ini. Dengan mudah aku mendapatkan ijin dari perusahaan tempat ku bekerja untuk mengambil cuti tahunan selama seminggu. Rambut lurus hitam dengan kulit hitam manismu wajah bulat serta senyum nakal yang selalu menghiasi wajahmu yang membuat para wanita luluh di hadapanmu….kembali aku melihatmu lagi melihatmu disini di kotamu namun di balik senyummu itu aku melihat sejuta masalah yang kau utarakan padaku dan aku tau pasti salah satunya adalah tentang istrimu yang masih berhubungan dengan mantan kekasihnya dan hanya mengharapkan materi dari dirimu. “Wid…….maafkan Arja yang telah menghianatimu, Arja masih sayang kamu”. Aku hanya tersenyum sambil memandang wajah lusuhmu. Meskipun terasa berbeda kunikmati kembali hari hari yang singkat bersama denganmu tanpa diketahui oleh istri dan anakmu yang saat pertama kita bertemu adalah hari lahirnya anakmu menurut penanggalan adatmu.

Semuanya harus ku akhiri……tak baik bagiku menjadi oang ketiga di keluargamu karena itu akan menambah persoalan baru. Rembulan malam yang kini tepat berada di tengah ketika nada nada itu lenyap berganti dengan keheningan malam yang luar biasa. Kuayunkan kakiku menyusuri pasir putih menuju  hotel tempatku menginap selama berada di kota ini, harum dupa yang aku senangi dan alunan gamelan yang lembut mengiringiku hingga menuju kamar. Aku tak tau harus berbuat apa mungkin aku berada pada posisi yang salah atau pada posisi yang benar. Aku masih suka Arja namun cintaku telah hilang buat dirinya maafkan diriku yang harus mengembalikan seluruh barang pemberianmu. Air mata yang telah membendung sedari tadi kini tumpah membasahi pipiku, aku sadar bahwa cinta tak selalu memiliki aku ikhlas melepas dirimu melepas cinta yang pernah bersemi di hati ini……..biarkan kunikmati indah dirimu hanya dalam bayang bayang sepi dalam kesendirian dan keterpurukan. Keyakinanku hanya berkata mungkin  nanti di kehidupan yang akan datang saat kehidupan reinkarnasi kita akan disatukan kembali. Biarlah kita jalani kehidupan kita saat ini kamu dengan kehidupanmu sekarang dan aku yang akan menjauh darimu pergi menuju negeri orang dan menjadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku.

 

Cerita ini hanya fiktif belaka namun kupersembahkan buat te Wida dan Beli Arja sebagai teman dan inspirasiku Huuh huuhh…..tahukah kalian bahwa aku kangen dengan kalian kangen dengan soto lontong ketinggalan bus dan kangen dengan suasana kota kalian.

~ oleh rikebintan di/pada April 23, 2008.

Tinggalkan Balasan